Rabu, 06 Juni 2018

Modus Terapi Otak, Kakek 69 Tahun Ini Minta Pasien Wanita Lepas Pakaian dan Lakukan Ini


BeritaPusat88 - Hakim Ketua I Gde Ginarsa mengingatkan Hilmi Asni alias Pak Asni alias Pak Bayu (69) agar tobat, tidak mengulangi lagi perbuatannya di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Rabu (6/6/2018).

Kakek Isni diganjar pidana tujuh tahun penjara, karena terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Diketahui, Kakek Isni berdalih sebagai penyembuh alternatif (dukun), tapi justru memperdaya pasien dan calon pasiennya.

Bukannya disembuhkan, justru ia melakukan tindakan cabul terhadap pasiennya.
Bahkan pencabulan dilakukan juga terhadap pasien dibawah umur berusia 11 tahun.
"Jangan ulangi perbuatan ini, karena membuat trauma terhadap anak. Bapak tobat ya. Bapak ini sudah tua," kata Hakim Ketua Gde Ginarsa usai terdakwa menyatakan menerima vonis hakim.

Mendengar nasehat dari hakim, Kakek Isni hanya menganggukan kepala, tanda mengiyakan.
Selain terdakwa, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Peggy E Bawengan juga menyatakan menerima vonis tersebut.
Sejatinya vonis yang dijatuhkan majelis hakim lebih ringan dibandingkan tuntutan yang diajukan jaksa.

Sebelumnya, Jaksa Peggy menuntut Kakek Asni dengan pidana penjara sembilan tahun.
Juga terdakwa dituntut pidana denda Rp 1 miliar subsider enam bulan penjara.
Sementara dalam amar putusan, majelis hakim menyatakan, terdakwa Kakek Asni terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindan pidana kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan suatu kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa, sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.

Sebagaimana tuntutan, Kakek Asni dijerat Pasal 76 E jo Pasal 82 ayat 1 Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

"Mengadili, menjatuhkan pidana terhadap Hilmi Asni alias Pak Asni alias Pak Bayu dengan pidana penjara tujuh tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara. Menjatuhkan pidana denda Rp 1 miliar subsider empat bulan penjara," tegas Jaksa Peggy.
Sebagaimana dibeberkan dalam surat dakwaan jaksa pada sidang perdana, bahwa perbuatan Kakek Asni dilakukan di rumahnya di kawasan Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, pada Desember 2017 lalu.

Berawal pada, Sabtu 2 Desember 2017 sekitar pukul 17.00 Wita ketika korban inisial AP (11) belanja di warung milik I Nyoman Kerna (saksi), dan bertemu terdakwa.
Di pertemuan itu, Kakek Asni bertanya dan menawarkan terapi otak kepada korban agar pintar.

Terhadap tawaran itu, keesokan harinya sekitar pukul 15.00 Wita, korban pamit pada ibunya, dengan alasan terapi di rumah terdakwa.
Namun saat itu RT (ibu korban) langsung melarang dan mengatakan, jika sebelumnya, tante korban ketika diterapi malah diminta buka baju oleh terdakwa.
Sayangnya korban tak mengindahkan larangan ibunya.
Lalu korban pun tetap mendatangi rumah terdakwa.
Begitu manggil nama "Om Bayu", panggilan terhadap terdakwa, terdakwa langsung mempersilahkan korban masuk.

Singkat cerita, kondisi rumah yang sepi mendukung niat bejat terdakwa.
Korban diminta tidur di atas ranjang dengan buku pelajaran korban dijadikan alas kepala.
Korban yang lugu pun mengikuti arahan terdakwa.
Bergaya bak seorang dukun sakti, terdakwa mulai menggosokan kepala korban dengan batu permata sambil memperlihatkan rekaman orang telanjang dari HPnya yang disebut sebagai tehnik terapi.

Saat diminta membuka baju, korban sempat menolak namun karena dirayu terus korban pun mengikuti.
Hingga korban melucuti semua pakaiannya.
Terdakwa terus menggosok batu itu ke seluruh badan korban, sembari membaca mantra.
Setelah itu korban diberikan imbalan Rp 15 ribu.
Namun sebelum pergi korban diminta tak bercerita pada siapa pun.
Terdakwa juga menjanjikan akan memberikan uang lebih jika bisa mengajak teman-temannya datang ikut terapi.


0 komentar:

Posting Komentar